Team PKM Gemar Parenting Universitas Hamzanwadi bersama Pembina, Dr. Abdullah Muzakkar, M.Si

EDUKASI PERKEMBANGAN ANAK TENAGA KERJA INDONESIA(TKI) MELALUI METODE “PARENTING”

Pejuangmuda.com – Tahukah Anda, NTB sedang meningkatkan upaya perkembangan anak TKI melalui edukasi parenting terhadap anak, tidak hanya itu upaya pencegahan pernikahan dini pun rupanya berdampingan dengan upaya perkembangan anak TKI. Tidak hanya dilakukan oleh pemerintah namun dibutuhkan tangan-tangan dari beberapa pihak yang mampu memberikan sumbangsih melalui kepedulian yang dilakukan.

Banyak dari pihak pejabat pemerintah, para tokoh mansyarakat, tak kecuali mahasiswa. Mahasiswa mampu mengimplementasikan pembelajaran selama di bangku kuliah dan mampu menjalankan program-program pemerintah melalui pintu-pintu yang dibuka lebar pemerintah tentunya, seperti menyalurkan ide mekanusme penyelesian permasalahan di daerah sendiri yang di kemas melalui program PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) dibawah Ristekdikti. 

Kegiatan peningkatan perkembanagn anak melaui metode parenting dilakukan di daerah Lombok Timur tepatnya dusun Gerami, Sakra. Mengapa permasalahan perkembangan anak TKI ini menjadi fokus pemerintah terutama para generasi di daerah NTB? Karena Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mencatat jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ditempatkan diberbagai Negara pada 2019 mencapai 283.640 pekerja.

Dari jumlah tersebut 47% pekerja bekerja di bidang formal dan 53% bekerja dibidang informal.   Berdasarkan data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) diketahui, Penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Provinsi Nusa Tenggara Barat mencapai  32.557 pekerja yang menempati pengiriman migran ke 4 terbesar di Indonesia (Databoks. 2019).

Keputusan yang diambil oleh para TKI bekerja di luar negeri disebabkan status sosial ekonomi yang rendah dan sulitnya memperoleh penghasilan yang layak, hal ini menyebabkan anak-anak harus kehilangan hak mendapatkan pengasuhan dan perlindungan dari orang tuanya. Anak-anak tenaga kerja indonesia (TKI) menempati kondisi  tanpa pengasuhan ayah atau ibu  bahkan kedua orang tuanya sehingga berdampak pada Pendidikan, Sosial, dan Kesehatan anak. 

Kondisi Anak-anak di Dusun Gerami sangat memperihatinkan, berdasarkan data profil desa gelora 55% penduduk mencari nafkah dengan merantau ke luar negeri sebagai TKI dan 257 Anak yang harus merelakan  kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya.

Menurut harlock (2016), lingkungan pertama anak yaitu keluarga, peran dari orangtua menjadi sangat penting dalam proses perkembangan anak seperti jaringan sosial, kreativitas, dan kecerdasan anak. Masalah ini yang menjadi titik fokus Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) kami, serta mencarikan solusi untuk penyelesaiannya.

Parenting merupakan pendekatan dalam penguatan kehidupan keluarga di masyarakat. Terutama dalam perkembangan anak menjadi metode pengasuhan dan pola komunikasi yang baik bagi orangtua. Namun sebagian besar masyarakat belum memahami pentingnya pengasuhan yang baik bagi perkembangan anak.  Edukasi perkembangan anak menggunakan metode parenting memberikan pengaruh yang positif bagi meningkatkan enam aspek perkembangan pada anak  yaitu seperti agama moral, fisik motorik, kognitif, sosial emosional, bahasa dan seni.

Stimulasi enam aspek yang optimal membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara fisik, cerdas dan ceria dalam berinteraksi dilingkungannya menjadi target kegiatan  “Gerakan Edukasi Perkembangan Anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI)  melalui metode pareting di dusun Gerami” 

Dari masalah tersebut ada dua alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan perkembangan anak melalui paenting anak TKI di saat masa pademi sekarang ini ialah  dapat memanfaatkan media sosial dan forum diskusi online diantaranya: Membuat konten menarik mengenai pentingnya parenting (Pola Asuh) bagi  edukasi orang tua terhadap masa golden age anak-anak TKI. Membuat Video Komperatif dan edukatif untuk mengembangkan kreativitas dan mengoptimalkan  enam aspek perkembangan anak usia dini. 

Dan tidak hanya itu kemampuan orang tua mengatasi stress selama dirumah saja sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa anak. Dimasa pandemic seperti sekarang ini kami dari PKM gemar parenting memanfaat kan media social secara maksimal sebagai wadah sharering parenting (pola asuh) membuat konten seputar parenting seperti video komperatif dan edukatif dan mengajak orang tua dan anak melatih kerja sama dan kreatifitas melalui video.

Satu hal yang kemudian baru disadari orang selama melakukan #DiRumahAja, ternyata tidak berinteraksi di luar rumah dan bertemu dengan orang lain dapat memicu stres. Mencoba berbagai resep masakan, membaca berbagai macam buku, bermain games edukatif , sampai menggambar dan membuat kolase yang yang kemudian dipostimg dimedia social yang sedang menjadi  tren di masa pandemic seperti sekarang ini, ini berguna untuk sebagai salah satu  cara mengalihkan rasa cemas, bingung, takut, dan stres selama #DiRumahAja akibat penyebaran Covid-19 yang tengah terjadi di seluruh dunia.

Adanya larangan beraktivitas di luar rumah tentu memberikan tantangan baru bagi semua orang, baik orang tua maupun anak. Pada orang tua kondisnya bisa jadi lebih berat, karena tidak hanya harus bisa berkonsentrasi bekerja tapi juga harus berperan sebagai guru untuk anak-anak yang belajar di rumah. Maka bisa jadi pemicu stres jadi berlipat ganda dan orang tua sangat diminta untuk dapat mengatasi situasi ini dengan baik.

“Kalau orang tua atau caregiver dapat mengatasi stres atau coping dengan baik pada masa ini, tentunya anak-anak juga akan mampu mengatasi stres di masa pandemi Covid-19, psikiater anak dan remaja dari Universitas Hasanuddin, Makassar Dr. Renvil Reynaldi menegaskan “ selain memperhatikan anak, orang tua juga harus memperhatikan dirinya sendiri.

Dengan begitu orang tua tetap dapat berpikir positif dan menjalani perannya seoptimal mungkin setiap harinya” imbuh Renvil pada live Instagram yang dihelat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDKJI) beberapa waktu lalu. Tapi membuat diri tetap positif selama menjalani peran sebagai orang tua, guru dan pekerja dalam situasi #DiRumahAja bukanlah perkara mudah.

Jika di awal-awal himbauan bekerja dan belajar di rumah dikeluarkan, banyak orang membicarakan apa yang perlu dilakukan agar anak tidak stres, tetap aktif dan menikmati selama pembatasan sosial dilakukan.

Seolah, bukan waktunya bagi orang tua untuk fokus pada diri dan kebutuhan psikologisnya sendiri. “Parenting di masa pandemi seperti menuntut semua orang tua untuk menjadi kuat dan tangguh

Adapun kiat stress menjalani parenting selama pandemic yang dibagikan team PKM gemar parenting “sangat penting bagi orang tua menyadari bahwa dirinya juga memiliki keterbatasan.Saat mengalami tekanan emosional atau stres, istirahatlah, jangan melakukan kontak dulu dengan anak, duduk sejenak, lalu memikirkan apa yang kita rasakan.

Dan tidak hanya  juga menyarankan penting untuk selalu berkomunikasi dengan sahabat atau sesama orang tua. Karena kita tidak pernah diharuskan menghadapi situasi sulit seorang diri. Apalagi saat ini teknologi komunikasi sangat memungkinkan untuk kita tetap berinteraksi dengan orang luar walau hanya di rumah saja, misalnya  bertukar  informasi dan tips seputar parenting dengan sesama orang tua di grup percakapan, bisa menjadi ruang untuk bercerita serta menemukan optimisme dalam menghadapi tantangan parenting selama pandemi.

Kami dari team PKM gemar parenting membuat wadah berupa group konsultasi seputar parenting via WA group dan bale parenting via Fb yang tidak hanya bisa dilihat oleh penduduk sasaran tetapi untuk semua yang menggunakan media social, memengaruhi mental dan jiwa anak di masa depan.

Kita adalah contoh hidup anak-anak bagaimana bertahan dalam situasi sulit. Jadi mari hadapi pandemi ini dengan ketahanan emosi, spiritual, dan mental yang baik. Anda tidak perlu menjadi yang terbaik, hanya cukup tetap tenang dan optimis menjalani ini semua.” 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here