Pejuangmuda.com – Sebagai senior pendosa, diumur duapuluh adalah bukan waktu yang singkat. Terlalu banyak waktu-waktu yang terlewati tanpa mengagungkan Tuhan. Dalam ibadah sakralpun seperti sembahyang misalnya, masih jua mengabaikan keberadaan-Nya. Betapa hina, seorang hamba mengadakan pertemuan 5 waktu tapi tidak berkomunikasi dengan sungguh-sungguh dengan penciptanya.

Kukira sumber kehampaan, kurang refreshing sebabnya. Kujejali diriku dengan bepergian menuju tempat-tempat indah yang dupuji orang-orang. Gunung kudaki, pantai kuselami, dan hamparan keindahan kunikmati hingga berhari-hari.

Menginap ditempat sepi yang kusangkai akan memulihkan energi positif dalam jiwaku, ternyata malah hanya menambah kehampaan bathin yang semakin menebal. Semakin lama, semakin tertutup kabut kegundahan. Kemudian pulang membawa kebimbangan perasaan liar lagi.

Pelan-pelan di pojok retakan kamar, seperti orang gila kutanyai diriku “apa yang sesungguhnya aku inginkan?”. Dari sisi sebelahnya diriku menjawab, “aku ingin ketenangan, itu saja. Bisakah hati dan fikiranmu berdamai?” ketusku pada diriku.

Pilihan terakhir kubujuk diriku untuk saling memaafkan, menerima diriku apa adanya, dan berani mengakui kesalahan-kesalahnku. Mencoba menerapkan tekhnik konseling self talk yang kudapati dibangku perkuliahan guna mengajak hati dan fikiran untuk mengadu pada Tuhan.

Akhirnya, kutemukan jawaban atas segala kegundahan, kehampaan dan masalah. Secara acak kubuka pedoman hidupku, kemudian berjodoh dengan Ar Ra’d (28) dalam Al-Qur’an. Didalamnya dituntun aku dengan pengertian “Hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentaram”

Sekarang aku sadar, berkelana dalam dunia ektrinsik dengan melihat fenomena alam memanglah keindahan namun bersifat fana yang memiki potensi kecil untuk membahagiakan sementara, jika ingin melihat hakikat bahagia sesungguhnya berkelanalah dalam unsur intrinsik terdalam hatimu. Tanya, apa yang ingin kau tuju. Mengenal dirimu adalah salah satu washilah untuk mengenal siapa Tuhamu. Dengan iman, hidupmu akan lebih terarah.

Hikmah: “Seringkali aku tertarik pada dunia luar diriku, hingga aku lupa bahwa mempelajari diriku tidaklah kalah menarik”

***

Reward yang pernah diperoleh penulis :
– Kategori penulis puisi terbaik, tema “Aku Bangga Berbahasa Indonesia”
– Kategori penulis terpilih, tema “Kritik Sosial”

Share.

1 Komentar

  1. Defi Setia Ningsih on

    Keren sekali, bahasanya sangat ringan namun maknanya sangat mendalam. Suka banget sama tulisannya,…

Leave A Reply