MENU

Motivasi Wirausaha Para Santri, TGB Hadiri Grand Opening Nahda Bakery

Pembina YPH PPD Nahdlathul Wathan (NW) TGB Dr KH M Zainul Majdi menghadiri Grand Opening Nahda Bakery, Sabtu (22/2) di pondok pesantren Darunnahdlatain NW Pancor, Lombok Timur. Hadir dalam kegiatan itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB, Achris Sarwani.

Lombok Timur, Pejuangmuda.com – Mantan Gubernur NTB yang juga Pembina YPH PPD Nahdlathul Wathan (NW) TGB Dr KH M Zainul Majdi menghadiri Grand Opening Nahda Bakery, Sabtu (22/2) di pondok pesantren Darunnahdlatain NW Pancor, Lombok Timur. Hadir dalam kegiatan itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB, Achris Sarwani.

Berdirinya Nahda Bakery merupakan buah hasil dari prestasi Pondok Pesantren Darunnahdlatain yang menjadi Juara 1 Pesantren Unggulan dalam perhelatan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Kawasan Timur Indonesia Tahun 2019 di Banjarmasin.

“Karena tahun lalu berhasil menjadi juara 1 dalam Fesyar, kita mendapatkan penghargaan berupa fasilitasi dari BI untuk membangun unit usaha baru memproduksi roti,” kata Ketua Umum YPH PPD NW Pancor Ustadz H. Muhammad Djamaluddin, B.Eng., M.Kom.

Suasana Gunting Pita sebagai simbolis Grand Opening Nahda Bakery

Sementara itu, TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA., selaku Pembina YPH PPD NW Pancor dan Ketua Umum DT PBNW menyampaikan apresiasinya atas peran BI dalam pengembangan ekonomi syariah.

TGB berharap keberadaan unit usaha baru ini tidak hanya bermanfaat dari sisi ekonomi saja tapi juga dapat menjadi tempat praktek dan belajar para santri dalam menjalankan aktivitas usaha dan produksi.

“Unit usaha kita mulai dari kecil, namun jika dilaksanakan dengan istiqomah dan keikhlasan maka insya Allah akan sukses dan membawa berkah seperti yang diajarkan oleh pendiri pondok kita Tuan Guru HM Zainuddin Abdul Madjid,” kata TGB.

Dalam kesempatan  terpisah, Achris Sarwani, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB mengatakan bahwa Bank Indonesia sangat concern dalam pemberdayaan ekonomi syariah dengan mendorong pengembangan dan penguatan usaha syariah di berbagai lini yaitu usaha mikro, kecil, menengah, dan besar termasuk pesantren.

Menurutnya, khusus di Pesantren, Sektor-sektor usaha prioritas yang dapat dikembangkan adalah pertanian terintegrasi, industri makanan dan minuman, industri pakaian, energi terbarukan, wisata halal, dan sektor usaha lainnya.

“Sektor usaha yang dikembangkan disesuaikan dengan potensi dan kondisi sekitar pesantren. Selain itu, unit usaha yang dikembangkan sangat diutamakan pada sektor usaha produktif yang menghasilkan nilai tambah (value added). Hal tersebut akan dapat mendorong kemandirian ekonomi pesantren,” katanya. (*)