Ada banyak pandangan yang saya dengar yang mengklaim bahwa IPK tinggi itu gak penting bagi seorang mahasiswa. Benarkah demikian?

Pejuangmuda.com– Ada banyak pandangan yang saya dengar yang mengklaim bahwa IPK tinggi itu gak penting bagi seorang mahasiswa. Benarkah demikian?

Mari kita cek. Ketika hendak melanjutkan studi ke jenjang yg lebih tinggi hampir pada semua jurusan selalu ada syarat IPK minimal, ngelamar beasiswa selalu ada syarat IPK minimal, sekolah ke luar negeri ada syarat IPK minimal, bahkan ikut tes CPNS pun ada syarat IPK minimal. So, betulkah IPK tinggi gak penting?

Orang yang mengklaim bahwa IPK tinggi itu gak penting adalah keliru. “IPK tinggi bukan segalanya” mungkin bisa mendapatkan justifikasi, tapi “IPK tinggi gak penting” adalah statemen lemah. Biasanya orang-orang yang mengklaim IPK tinggi gak penting ini akan menghadirkan kisah-kisah sukses mereka yang putus sekolah dan sekarang jadi pengusaha sukses. Tapi seringkali mereka lupa bahwa ada lebih banyak lagi orang-orang sukses di luar sana yang dahulunya adalah para pemegang IPK tinggi di kampusnya. BJ Habibie, Anies Baswedan, Rhenald Kasali, Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, dan setumpuk nama-nama lain adalah orang-orang dengan prestasi akademik mentereng pada masanya.

IPK alias Indeks Prestasi Kumulatif itu adalah satu-satunya bukti legal dan autentik kinerja akademik seorang mahasiswa (S1, S2, atau S3). Keseriusan kita belajar di kampus, mengerjakan penelitian, menyelesaikan skripsi/tesis/disertasi itu akan tercermin dari IPK kita. Dan tidak gampang untuk meraih IPK tinggi. Diperlukan kerja keras dan kerja ekstra. Para pemegang IPK tinggi ini biasanya adalah mereka yang tak tidur saat yang lain tidur, bekerja saat yang lain nyantai. Mereka selalu ‘going the extra miles’ alias mengerjakan sesuatu di atas rata-rata orang lain.

Jadi, adik-adik mahasiswaku, jika ada yang bilang padamu bahwa ‘punya IPK tinggi itu gak penting’, ‘kuliah santai saja yang penting lulus’, please jangan percaya. Saya adalah salah satu orang yang meyakini bahwa IPK tinggi itu penting (dan saya telah membuktikan manfaatnya sejauh ini). Ketahuilah, bahwa ada banyak hal positif yang menantimu di depan sana hanya dengan modal IPK tinggi. Kemudahan beasiswa, seminar dan training, jadi asisten dosen, ikut kompetisi ini dan itu, dan masih banyak lagi. Jadi, saran saya: berusahalah meraih IPK tinggi. Kelak, kau akan merasakan bagaimana bangganya orang tuamu melihat kamu memakai selempang “cum laude” (apalagi bisa tampil di podium sebagai lulusan terbaik) dan duduk di barisan paling depan. Itulah kebahagiaan pertama yang kau persembahkan pada mereka setelah sekian tahun mereka bersusah payah membiayai kuliahmu.

Terakhir saya mau tambahkan bahwa hanya dengan modal IPK tinggi, saya bisa membantu orang tua saya gak bayar kuliah selama 4 tahun, bisa beli 2 sepeda selama saya kuliah S1, bisa kirim uang ke kampung, bisa kerja alias cari uang sendiri waktu masih kuliah, dan saat sekarang ini bisa kuliah S2 di luar negeri!

Jadi, jangan takut ber-IPK tinggi!

Malaysia, 6 Oktober 2020
Salam hormat,

Syarif Husni
(Lulus S2 luar negeri dgn IPK 3.94)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here