Oleh : DS Aji, penikmat puisi yang suka merenung di tepi bengawan solo. Sekarang bergiat di Lesbumi Kota Surakarta dan Komunitas Sastra Serat.

Pada suatu sore
Ia bersemi dari genangan sisa hujan kemarin
Ia bertahan dari roda truk pasir yang terperosok pada aspal yang berlubang
Ia menyerap air coklat yang bercampur lumpur

Tetapi…
Pada pagi hari
Ia tumbuh bersama rumput-rumput yang berjuang
Ia tumbuh untuk mengingatkan: ada lubang di jalan itu!
Ia tumbuh untuk meneriakkan: ketidakadilan di aspal yang berlubang
Ia tumbuh dari nurani warga desa yang tanahnya dirampas pasirnya

Tetapi ingatlah
Bunga, kau tak akan layu dalam sejarah
Ada yang tumbuh lagi dari bunga yang mekar pertama

Cepogo, Februari 2016

Share.

Leave A Reply