Beranda PUISI

PUISI

Hai awan yang sedang mengapung di langit biru Aku tak bisa menebakmu Karena mendungmu belum tentu hujan Sedang putihnya warnamu belum tentu cerah, kadang curah Ku tahu kau jarang dibait syair Saat kau mempercantik mentari Bukan kau yang dipuji Saat kau menghiasi senja Bukan kau yang dipuja Kau indah saat melukis diatap langit Ah awan indahnya kau dicipta
Aku terkurung dalam ruang terbuka Namun tak bebas hingga menyisakkan luka Aku terkurung dalam sangkar terbuka Namun tak bebas kemana-mana Inginku seperti mereka Tapi takdir tak merela Sampai batin tersiksa Dengan tekanan yang menimpa Dengaan cobaan yang menerpa Aku pun tak kuasa memaksa Menjadikan diri seperti mereka Yang bebas berkeliaran kemana-mana Ah kusimpulkan saja Akan ada banyak cerita Di setiap moment yang tercipta Ada suka Ada duka Ada luka ada derita Ada bahagia **** Penulis : Muhamad Mahmud merupakah mahasiswa...
Saat aku mulai menepi Di dinding kamar nan sepi Bersahabat dengan sunyi Menikmati pekatnya malam Dan menepis kedinginan malam dengan hangatnya kopi hitam Rintik hujan mengetuk atap rumah berlarian mengintai setiap rumah yang disinggahinya Aku pun tak luput dari intaiannya. Kecil memang, namun banyak, hingga membuat bising, membuyarkan setiap sisi kesunyianku. Ah aku pikir ini cara Tuhan menyapaku dengan Rahmat-Nya. Kumandang azan bergantian menggema Angin menembus setiap celah sendi-sendi raga Hingga membuatnya terasa...
Oleh : DS Aji, penikmat puisi yang suka merenung di tepi bengawan solo. Sekarang bergiat di Lesbumi Kota Surakarta dan Komunitas Sastra Serat. Senja di Batas Kota Matahari jatuh di pelukmu, Sewarna jingga di alir airmata, Dulu sekali, Ada tambang di batas kota, Rakit reot jua untuk kita saling berkunjung, Dalam perjumpaan tanpa ujung, Hari lalu, Matahari sepenuhnya tenggelam, Malam mendendangkan lagu rindu, Lantas di manakah rakit tua sekarang berkait? Pepohonan...
Oleh : DS Aji, penikmat puisi yang suka merenung di tepi bengawan solo. Sekarang bergiat di Lesbumi Kota Surakarta dan Komunitas Sastra Serat. Seorang gadis perawan bertudung candik ayu Tersenyum ramah maghrib itu Matanya menyiratkan keteduhan Sedang peluknya hangat kasih Tuhan Oh gadis yang lahir dari rahim nubuah Suaramu ialah selawat Bagi mereka yang arif meruwat air suci perwitasari Yang bermuara di hati samudera Namun Kutulis risalah ini sebagai...
Oleh : DS Aji, penikmat puisi yang suka merenung di tepi bengawan solo. Sekarang bergiat di Lesbumi Kota Surakarta dan Komunitas Sastra Serat. Pada suatu sore Ia bersemi dari genangan sisa hujan kemarin Ia bertahan dari roda truk pasir yang terperosok pada aspal yang berlubang Ia menyerap air coklat yang bercampur lumpur Tetapi... Pada pagi hari Ia tumbuh bersama rumput-rumput yang berjuang Ia tumbuh untuk mengingatkan: ada...
EGOISME DIRI Oleh : Siti Maria Ulfa (Mahasiswa Aktif Pendidikan Sosiologi Universitas Hamzanwadi Pejuangmuda.com - Ku tulis sebuah puisi Di atas kertas tak bertepi Sang pena tak henti borgoyang Mencatat setiap kata yang melayang Di dalam pikiranku yang sempit Oleh kehadiranmu yang tak kunjung pamit Setiap hal tereliminasi Dari pikiran yang tak pernah sepi Oleh bayangmu yang kian silih berganti Sedih senang selalu ku nikmati Tak pernah ku kunci pintu pikiran Setiap...
Lombok Timur, Pejuangmuda.com - Siti Maria Ulfa (20), salah satu mahasiswa aktif pendidikan  sosiologi Universitas Hamzanwadi. Ia dikenal suka menulis puisi dan sajak tentang apa saja yang terlintas dibenaknnya. Terbukti dengan banyaknya prestasi yang diraih dalam dunia kepenulisan tingkat nasional, seperti : Penyair Terbaik Sekaligus Penulis Buku Antologi Puisi "Sajak Harapan" LCPN ROFSIKAHA 2019 Penulis Terpilih Lomba Cipta Puisi...